SNC,– Tokoh Budaya Papua dan penggagas Noken sebagai Warisan Dunia, Titus Pekei, memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Deiyai atas komitmennya mengintegrasikan nilai-nilai budaya Papua ke dalam ruang-ruang pemerintahan. Menurutnya, kebijakan ini mencerminkan kesungguhan pemerintah daerah dalam menjaga identitas dan warisan budaya Papua.
Titus Pekei menilai, penghadiran simbol-simbol adat seperti Noken, busur-panah, cawat, serta ornamen budaya lainnya di lingkungan pemerintahan bukan sekadar unsur dekoratif, melainkan medium edukasi budaya yang menyampaikan pesan jati diri kepada aparatur negara dan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut memiliki makna strategis karena mampu memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya budaya sebagai fondasi pembangunan daerah. Selain itu, pendekatan ini dinilai dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga nilai-nilai adat di tengah dinamika perubahan sosial.
Menurut Titus Pekei, arah kebijakan yang diambil Bupati Deiyai Melkianus Mote dan Wakil Bupati Ayub Pigome menunjukkan kepemimpinan yang berpijak pada kearifan lokal. Hal ini tercermin dari penguatan moto Kabupaten Deiyai, Dou, Gai, Ekowai Enaimo, yang menekankan semangat hidup bersama, saling menopang, dan bertumbuh dalam kebersamaan masyarakat Me Pago.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Deiyai. ASN dan masyarakat didorong untuk terus mengembangkan pengetahuan melalui berbagai jalur pendidikan, baik formal maupun autodidak, sebagai upaya memperkuat kapasitas individu yang berkontribusi pada kekuatan sosial secara kolektif.

Keberadaan lukisan dan simbol tradisi Papua di pagar kantor Pemerintah Kabupaten Deiyai dipandang sebagai representasi nyata dari integrasi budaya dan birokrasi. Ruang publik pemerintahan tidak hanya menjadi tempat pelayanan administratif, tetapi juga ruang dialog antara manusia, nilai adat, dan lingkungan sekitarnya.
Dalam konteks kehidupan masyarakat, Titus Pekei menilai tradisi di Kabupaten Deiyai tetap hidup dan menyatu dengan aktivitas sehari-hari. Nilai adat tidak ditinggalkan, tetapi terus menjadi pedoman hidup yang memberi manfaat bagi individu maupun kehidupan bersama.
Sebagai peneliti disertasi berjudul “Nilai-Nilai Noken dalam Konteks Pelestarian Lingkungan: Studi Kualitatif di Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah”, Titus Pekei mengungkapkan bahwa selama melakukan penelitian lapangan, ia menyaksikan keterhubungan antara kebijakan budaya dan kebutuhan nyata masyarakat. Hal tersebut tampak pada perhatian pemerintah daerah terhadap nelayan Danau Tigi, peternakan babi, program penghijauan Lembah Tigi, serta penyaluran bantuan sosial bagi masyarakat Daba, Dobiyo, Miya, dan Adama Bage.
Ia berharap, ke depan pemerintah daerah juga memberi perhatian lebih kepada petani anggrek sebagai bahan baku pembuatan Noken, sekaligus memperkuat upaya penanaman pohon yang sesuai dengan karakter ekologis Deiyai. Menurutnya, kebijakan yang berpijak pada kearifan lokal akan selalu relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Titus Pekei menilai, kepemimpinan Bupati Melkianus Mote dan Wakil Bupati Ayub Pigome telah mencerminkan semangat kearifan lokal tujuh wilayah adat budaya Noken Papua—Mamta Tabi, Domberai, Bomberai, Anim Ha, La Pago, dan Me Pago—sehingga layak menjadi contoh kepemimpinan pemerintahan Papua yang berakar pada budaya.
Pada akhirnya, upaya pelestarian budaya di Kabupaten Deiyai tidak dimaknai sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai strategi membangun masa depan yang berlandaskan identitas, nilai, dan harmoni antara manusia dan alam Papua. (*)

